Resume Teklab II (V)

29 Apr

HUBUNGAN SOSIAL DAN AKTUALISASI DIRI

A. Pengertian Hubungan Sosial

Sosial berarti berkenaan dengan masyarakat, umum, suka menolong dan memperhatikan orang lain. Hubungan sosial berarti hubungan yang terjadi ketika kita berintekrasi atau melakukan hubungan serta sosialisasi dengan alam/ manusia/ lingkungan disekitar kita mulai dari lingkup terkecil yaitu keluarga sendiri, teman, sekolah, tetangga dll.

Pengertian Hubungan sosial dalam buku “cara membina hubungan baik dengan orang lain” karangan Richard Nelson adalah adanya keterkaitan dengan orang lain, biasanya melihat tatap muka / komunikasi. Sedangkan dalam buku “ Hubungan Masyarakat Modern” karangan Drs. S.K. Bonar.  Hubungan sosial adalah menjalankan usaha-usaha untuk mengembangkan hubungan-hubungan yang akrab, pantas, dan menguntungkan untuk kedua belah pihak, seperti antara sesuatu perusahaan, industri, atau organisasi dengan masyarakat disekelilingnya.

Jadi Hubungan Sosial ialah relasi sosial yang terbentuk antara individu, kelompok, dan kelompok, atau antara individu dengan kelompok. [1]

Hubungan sosial berarti hubungan yang terjadi ketika kita berinteraksi atau melakukan hubungan serta bersosialisasi dengan alam, manusia, lingkungan disekitar kita mulai dari lingkup terkecil yaitu, keluarga sendiri, teman, sekolah, tetangga.[2]

B. Konsep Dasar Dalam Hubungan Sosial

Konsep dasar dalam hubungkan sosial yakni:

  • Menghindari rasa sakit akibat keterasingan (secara biologis manusia butuh hubungan dengan manusia lain)
  • Bantuan diusia tua, bila sakit dan sebagainya
  • Kerjasama untuk menyelesaikan tugas
  • Beradaptasi / mepelajari cara baru dalam melakukan sesuatu

C. Masalah-masalah Dalam Hubungan Sosial

Gejala-gejala sosial di dalam masyarakat yang tidak dikehendaki dan diinginkan oleh masyarakat dapat disebut masalah sosial. Hal ini merupakan gejala yang abnormal atau gejala- gejala patologis. Masalah-masalah sosial begitu mengganggu dan menghantui kehidupan manusia dalam kebudayaan dan peradabannya karena dapat dipastikan hal tersebut menjauhkan manusia dari kesejahteraannya. Dalam sejarah peradaban manusia sebelum adanya ahli-ahli ilmu sosial, pemecahan masalah-masalah sosial ini ditangani oleh para filosofis, ahli politik, ahli hukum, dan rohaniwan.

Pada dasarnya, masalah sosial mengangkut nilai-niali sosial dan moral. Masalah tersebut merupakan persoalan, karena menyangkut tata melakukan immoral, berlawanan hokum dan bersifat merusak.

Masalah sosial timbul dari kekurangan-kekurangan dalam diri manusia atau kelompok sosial yang bersumber pada factor-faktor ekonomis, biologis, bio-psikologis, dan kebudayaan.

Masalah-masalah dapat dikategorikan menjadi empat jenis factor yaitu:

  1. Faktor ekonomi, kemiskinan, pengangguran
  2. Faktor budaya
  3. Faktor biologis
  4. Faktor psikologis

D. Teknik Disensistisasi

Pendekatan teknik ini dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku melalui perpaduan beberapa teknik untuk mengubah tingkah laku melalui perpaduan beberapa teknik yang terdiri dari memikirkan sesuatu, menenangkan diri, dan membayangkan sesuatu. Dalam hal ini konselor berupaya untuk menanggualangi kesulitan ataupun kebimbingan yang dalam suasana tertentu.[3]

Konselor melakukan teknik ini dengan memanfaatkan ketenangan jasmaniah klien  untuk melawan ketegangan jasmaniah yang timbul bila klien berada pada suasana yang menakutkan atau menegangkan.Dalam proses ini ada beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan dan ada beberapa tahap yang di lalui yaitu:

a)      Teknik desentisisasi sebaiknya digunakan bagi klien yang merasa takut terhadap suatu hal tertentu saja

b)      Sebelum memulai, klien harus diberi penjelasan secara tuntas tentang proses pengubahan tingkah laku. itu tidak berhasil jika klien itu sendiri tidak yakin bahwa ketakutan itu merupakan hasil belajar dan cara menghilangkannya pun dapat melalui proses belajar.

c)      Terlebih dahulu klien harus berada dalam keadaan yang benar-benar tenang. Ketenangan ini dapat terjadi melalui latihan yang diatur oleh konselor sendiri atas kesukarelaan klien sendiri

d)      Selanjutnya konselor dank lien bersama-sama menyusun suatu daftar kejadian-kejadian yang berhubungan dengan ketakutan itu. Kejadian-kejadian ini kemudian diurutkan mulai dari yang kurang menakutkan sampai kepala yang paling mendalam (Menakutkan)

e)      Dalam tingkat berikutnya konselor terlebih dahulu membantu klien mencapai sesuatu keadaan yang benar-benar tenang secara jasmaniah. Keadaan ini dilengkepai dengan peningkatan sebanyak mungkin bayangan kenegangan yang secara mentah , kemudian konselor menguraikan butir kejadian yang paling rendah dalam urutan ketakutan itu

f)         Dengan demikian klien bersama konselor menangani kejadian-kejadian itu secara bertahap.konselor mendorong klien untuk menerapkan hal-hal yang dilatihkan itu didalam kehidupannya, dan melakukan hal-hal yang perlu untuk menolong sendiri bilamana ketegangan atau kebingungan terjadi.


[1] Keastoer Partawisastra, Dinamika psikologi sosial, Jakarta: Erlangga, 1993 Hal.10-11

[2].http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080201055323AAEVmZ

[3] http://husniabdillah.multiply.com/journal/item/6/Stres_dan_teknik_pencegahannya

RESUME IV

29 Apr

STRESS DAN EMOSI (lanjutan)

  1. A. TEKNIK MENGATASI STRESS DAN EMOSI

Stres bisa merusak pertahanan alami tubuh dan mengaktifkan hormon stres yang bisa menguras nutrisi dan cadangan energi tubuh. Untuk membantu tubuh agar kuat menghadapi stres, kita perlu banyak mengkonsumsi makanan dari kelompok karbohidrat kompleks, misalnya beras merah, pasta, roti gandum, serta polong-polongan, buah-buahan, dan sayur-sayuran.Saraf dan sistem kekebalan tubuh juga membutuhkan makanan kaya vitamin B untuk mengatasi kelelahan yang ditimbulkan oleh stress[1]

Adapun Teknik-Teknik yang bisa dilakukan untuk mengatasi stres yakni sebagai berikut:

  1. 1. Teknik Penenangan Sederhana

Latihan penenangan (relaksasi) adalah suatu keterampilan yang berguna secara khusus untuk membantu mengendalikan diri. Latihan penenangan mempunyai keuntungan yaitu mudah diajarkan dan dipelajari. Latihan penenangan juga dapat dengan mudah digunakan secara luas dalam berbagai suasana kehidupan nyata. Ia dapat pula berguna sebagai penunjang bagi keterampilan-ketrampilan konselor lainnya.

Penenangan dicapai dengan mengendurkan urat-urat seluruh bagian badan secara berangsur-angsur sehingga tidak ada lagi bagian yang kejang atau kaku. Latihan penenangan ini dilakukan dengan penuh perhatian sehingga bagian-bagian badan menjadi kendur menurut urut tertentu.

Konselor yang merasa bahwa kliennya sangat gelisah ketika sedang berbicara dapat diberikan bantuan agar klien menjadi tenang dengan melakukan beberapa latihan sederhana. Hal ini dapat membantunya mengatasi masalah yang dihadapinya secara lebih tenang dalam konseling.

Menurut para ahli salah satu teknik mengatasi stress adalah dengan relaksasi (penenangan). Herber Besm mengemukakan cara pelaksanaan relaksasi adalah:

a)      Duduk dengan tenang dengan posisi yang nyaman

b)      Tutup mata

c)      Rilekskan semua otot-otot tubuh

d)      Ambil nafas dari hidung secara perlahan lalu diihembuskan melalui mulut

e)      Lakukan selama 10-20 menit

Dalam teknik ini anda dapat melakukan relaksasi seluruh badan anda. Sebagai contoh: kepalkan tangan anda dengan keras, anda akan melihat otot-tot tangan anda berkontraksi kemudian lepaskan kepalan tangan anda dan biarkan jari-jari melemas, anda akan melihat otot–otot anda berelaksasi. Lakukan pada semua otot di tubuh anda secara bertahap otot kaki anda, pundak (naikkan pundak anda setinggi mungkin kemudian lemaskan!), perut, dada muka, dagu dst. Kemudian terakhir rilekskan pikiran anda dengan memikirkan alam yang indah yang pernah anda kunjungi, langit yang cerah, hembusan angin sejuk, deburan ombak yang mengalun. Bayangkan kesejukkan itu dalam diri anda.[2]

  1. 2. Teknik Penenangan Penuh

Teknik ini sangat berguna untuk mengatasi stress, insomnia, akibat kelelahan dan memperlancar sirkulasi darah. Berikut ini serangkaian petunjuk yang dapat digunakan untuk mengendurkan diri secara penuh, yaitu teknik penenangan yang penuh:

  1. Berbaring telentang dengan kedua kaki direnggangkan dalam jarak lebih-kurang 30 cm. kedua tangan lemas dengan telapak tangan menghadap ke atas
  2. Pejamkan mata, dan gerakkan secara perlahan-lahan semua bagian badan untuk menciptakan kesan umum tentang keadaan badan yang tenang
  3. Kemudian mulai mengendurkan badan bagian demi bagian. Terlebih dahulu perhatikan kaki kanan. Tarik napas dan perlahan-lahan angkat kaki setinggi 25 cm dari lantai. Biarkan letak kaki seperti itu…terus pertahankan…sampai benar-benar menjadi tegang. Setelah 5 detik, lepaskan dengan tiba-tiba, dan kendurkan otot-otot kaki, biarkan ia turun ke lantai dengan sendirinya. Gerakan kaki secara lemah lembut dari kanan ke kiri, kendurkan sepenuh-penuhnya, lupakan keadaan kaki itu.
  4. Ulangi kegiatan seperti di atas dengan kaki kiri dan kemudian dengan kedua tangan satu persatu
  5. Kemudian arahkan perhatian anda pada otot pinggul, pantat, dan dubur. Tegangkan…dan kendurkan. Sekali lagi, tegangkan dan kendurkan. Selanjutnya perhatikan daerah perut. Tarik napas dalam-dalam melalui hidung, dan kembungkan perut. Tahan napas selama 5 detik, dan semburkanudara melalui mulut secara tiba-tiba serentak dengan mengendurkan semua otot-otot perut dan sekat rongga badan
  6. Pindah ke bagian dada. Tarik napas dalam-dalam melalui hidung, dan kembungkan dada. Tahan napas selama 5 detik, dan semburkan udara keluar melalui mulut sambil mengendurkan semua otot-otot dada dan rongga dada
  7. Pindah ke bagian bahu. Dengan tidak menggerakkan lengan, gerakkanlah kedua bahu sampai kebagian depan dari badan. Kendurkan kembali dan biarkan ia turun dengan sendirinya ke lantai
  8. Dengan perlahan-lahan dan lembut, putar leher ke kanan-ke kiri-ke kanan-ke kiri, dan kembali ke tengah seperti biasa, kemudian kendurkan otot-otot leher.
  9. Terakhir ke otot-otot bagian muka, gerakkan rahang ke atas ke bawah, ke kiri-ke kanan sampai beberapa kali, lalu kendurkan. Katupkan kedua bibir dalam bentuk mencibir, kemudian kendurkan.kempotkan otot pipi, dan kendurkan. Tegangkan ujung hidung, dan kendurkan. Kerutkan kening, kemudian kendurkan.
  10. Sekarang anda telah selesai mengendurkan semua otot-otot. Untuk meyakinkan apakah  seluruh bagian badan anda telah kendur, telusurilah (dengan perhatian anda) sekujur tubuh anda mulai dari ujung kaki sampai ke kepala, untuk mengetahui apakah masih ada bagian-bagian yang belum kendur. Jika anda menemui bagian yang masih tegang (belum kendur), pusatkanlah perhatian anda pada bagian ini dan kendurkan. Jika anda melakukan hal ini dengan sepenuh hati tanpa menggerakkan otot-otott yang lain, maka anda akan merasakan bahwa otot bagian badan yang masih tegang itu ternyata dapat mematuhi perintah anda.

Demikianlah penenangan yang penuh. Bahkan jiwa anda pun sekarang dalam keadaan tenang. Anda dapat terus memperhatikan pernapasan anda, udara terus  mengalir keluar dan masuk dari dan ke alat pernapasan anda secara bebas dan tenang. Perhatikanlah apa yang anda pikirkan tanpa mencoba tanpa mencoba untuk memaksa alam pikiran anda mengarah kepermasalahan tertentu.

  1. 3. Teknik Disensitisasi

Yaitu pengurangan kepekaan terhadap rangsanan. Tujuannya adalah supaya perangsang itu dapat diterima secara wajar. Pendekatan ini dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku melaluii perpaduan beberapa teknik yang terdiri dari memikirkan sesuatu, menenangkan diri, dan membayangkan sesuatu. Konselor berusaha memberikan “suntikan” bagi klien untuk menanggulangi ketakutan  ataupun kebimbangan yang mendalam  dalam suasana tertentu. Konselor melakukan teknik ini dengan memanfaatkan ketegangan jasmaniah klien untuk melawan ketegangan jasmaniah yang timbul bila klien berada pada suasana yang menakutkan atau menegangkan.

Teknk ini dikembangkan oleh Wolpe yang mengatakan bahwa semua prilaku neurotic adalah ekspresi dari kecemasan. Dan respon terhadap kecemasan dapat dieliminasi dengan menemukan respon yang antagonistic. Teknik desensitisasi sistematik bermaksud mengajar klien untuk memberikan respon yang tidak konsisten dengan kecemasan yang dialami klien. Teknik ini dsapat berjalan tanpa teknik relaksasi.

Didalam konseling klien diajar untuk santai dan menghubungkan keadaan santai itu dengan membayangkan pengalaman yang mencmaskan , menggusarkan atau mengecewakan.

Dalam proses ini ada beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan dan beberapa tahap yang perlu dilalui:

a)      Teknik ini sebaikkan digunakan bagi klien yang merasa takut terhadap satu hal tertentu saja, seperti takut melihat darah

b)      Sebelum memulai, klien harus diberi penjelasan secara tuntas tentang proses desentitasi itu.

c)      Terlebih dahulu klien harus berada dalam keadaan yang benar-benar tenang

d)      Selanjutnya konselor dan klien bersama-sama menyusun suatu daftar kejadian-kejadian yang berhubungan dengan ketakutan itu. Kejadian-kejadian itu kemudian diurutkan mulai dari yang kurang menakutkan dan yang paling menakutkan.

e)      Dalam tingkat berikutnya konselor terlebih dahulu membantu klien mencapai suatu keadaan benar-benar tenang secara jasmaniah. Keadaan tenang ini dilengkapi dengan peningkatan sebanyak mungkin bayangan ketenangan secara mental

f)        Dengan demikian klien bersama konselor menangani kejadian-kejadian itu secara bertahap. Konselor mendorong klien untuk menerapkan hal-hal yang dilatihkan itu ke dalam kehidupannya, dan melakukan hal-hal yang perlu untuk menolong diri sendiri bilamana ketegangan atau kebingungan terjadi.[3]


[1]http://www.susolostrum.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=258

[2] http://embun777.wordpress.com/obat-kuat/mengatasi-stress-panik/

[3] Sofyan S Willis. Konseling Individual (Teori Dan Praktek). Bandung : Alfabeta, 2004

29 Apr

STRESS DAN EMOSI LANJUTAN

AKIBAT YANG DITIMBULKAN OLEH GANGGUAN

EMOSI  DAN STRESS

  1. a. Akibat Yang Ditimbulkan Oleh Gangguan Emosi

Emosi yang dialami oleh seseorang  dapat mengakibatkan  hal-hal sebagai berikut: berupa Shock, takut, cemas, marah, benci, berduka, rasa bersalah, malu, tidak berdaya, tidak dapat merasakan apa pun, dan depresi. Juga dampak dari segi fisik berupa tegang, gelisah, cepat lelah, gangguan tidur, nyeri tubuh atau kepala,mudah terkejut, jantung berdebar, keringat dingin, mual, pusing, gangguan Nafsu makan, dan gangguan gairah seksual, terdapat juga dampak dari segi kognitif yang ditimbulkan oleh stress yaitu berupa; bingung, kehilangan orientasi, ragu-ragu, sulit membuat keputusan, khawatir, proses berpikir melambat, sulit mengingat, sulit berkonsentrasi, mudah lupa, dan selalu mimpi buruk serta kehilangan kendali atas perilaku kita sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Untuk itu kita harus bisa menyesuai diri kita dengan tantangan kehidupan yang terjadi pada dunia sekarang ini. Karena kalau tidak, bisa menyebabkab kita emosi yang akan berdampak bahanya dalam diri kita dan orang lain.

  1. b. Akibat Yang Ditimbulkan Oleh Gangguan Stress

Berdasarkan buku pedoman Kesehatan Jiwa dari Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat Depkes, stres adalah reaksi seseorang, baik secara jasmani maupun kejiwaan apabila ada tuntutan terhadap dirinya. Stres berpengaruh terhadap keadaan jasmani dan kejiwaan. Dan reaksi seseorang terhadap stres juga berbeda-beda. Reaksi yang bersifat jasmani yaitu jantung berdebar-debar, otot tegang, sakit kepala, migren, sakit perut (kembung, perih dan mencret), letih dan lelah, gangguan makan (tak nafsu makan atau makan berlebihan). Sedangkan reaksi yang bersifat kejiwaan yakni cemas, kuatir berlebihan, takut, mudah tersinggung, sulit memusatkan pikiran atau perhatian, bersifat ragu-ragu atau merasa rendah diri, merasa kecewa, pemarah dan agresif. Pada tahap yang lebih berat dan berlangsung lama, stres dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, asma, serangan jantung, stroke, dan gangguan jiwa

Orang yang mengalami stres dapat mengalaminya hanya untuk sementara waktu saja atau dapat untuk waktu lama. Pada tahap yang terakhir stres psikologik akan menampakkan diri dalam bentuk sakit fisik dan sakit psikis. Kesehatan jiwa terganggu. Orang dapat menjadi agresif, dapat menjadi depresi, dapat menderita neurosis cemas, dapat menderita gangguan psikosomatik, dapat tidak sehat badan.[1]

Richard lazarus seorang peneliti tentang stres menyatakan bahwa stres dimulai dari penilaian anda terhadap situasi. pertama tanya diri anda apa yang terjadi dan mengapa terjadi ( penyebabnya). kemudian untuk menetapkan pengaruh situasi bagi kesehatan anda, tanyakan sejauh apa bahayanya dan sumber apa yang anda miliki untuk mengatasinya.

Menurut Patel, stres tidak selalu bersifat negatif. pada dasarnya, stres merupakan respon-respon tertentu dari tubuh terhadap adanya tuntutan-tuntutan dari luar. dengan adanya berbagai tuntutan tersebut, tubuh manusia berusaha mengatasi dengan menciptakan keseimbangan antara tuntutan luar, kebutuhan dan nilai-nilai internal, kemampuan coping personal, dan kemampuan lingkungan untuk memberikan dukungan. hasil dari interaksi tersebut adalah persepsi terhadap stres.

STRESS DALAM PEKERJAAN

Stres dalam pekerjaan merupakan salah satu gangguan potensial yang akan berdampak pada kinerja Sumber Daya Manusia (SDM) dan akan berpengaruh kepada kegiatan operasional perusahaan secara keseluruhan. Beberapa hal yang dapat menjadi pencetus terjadinya stres antara lain :

1.   Pekerjaan,  pekerjaan dapat memicu terjadinya stres misalnya pekerjaan yang terlalu banyak, pekerjaan yang sedikit, keharusan menyelesaikan pekerjaan dalam waktu terbatas (deadline) ataupun kebosanan dalam pekerjaan.

2.   Keluarga, masalah keluarga yang tidak terselesaikan secara tidak langsung  sedikit banyaknya akan berpengaruh terhadap kondisi karyawan dalam bekerja.

3.   Rekan kerja dan lingkungan sekitar, penolakan atau bahkan permusuhan dari rekan sejawat dapat memicu stres bagi karyawan, mengingat kehadirannya tidak dapat diterima oleh lingkungannya.

4.   Diri sendiri, kemampuan mengontrol diri dan daya tahan diri terhadap tekanan sangat berpengaruh terhadap tingkat stres yang dialami seseorang. Dalam tingkat stress yang tinggi seseorang tidak dapat berpikir jernih dan merasa tidak dapat berbuat apa-apa terhadap tekanan yang ada. [2]

Dalam pembagian yang lain penyebab stres dalam pekerjaan bisa juga dibedakan kedalam dua hal:

a)      Group stressor, adalah penyebab stres yag berasal dari situasi maupun keadaan didalam perusahaan, misalnya kurangnya kerjasama antara karyawan.

b)      Individual stressor, adalah penyabab stres yag berasal dari dalam diri individu, misalnya tipe kepribadian seseorang, kontrol personal dan tingkat kepasrahan seseorang.

Stres bukan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Beberapa kiat  yang ditawarkan dalam menghadapi stres antara lain:

  • Berpikir positif, dengan selalu berpikir positif setiap tekanan dalam pekerjaan akan dihadapi dengan optimistik bukan pesimistik.
  • Relaksasi, dengan relaksasi pikiran dan hati akan lebih rileks dalam menghadapi tekanan, berjalan di sekitar kantor, menarik nafas dalam-dalam, mendengarkan musik atau bahkan bercanda dengan rekan kerja merupakan relaksasi yang bisa dilakukan setiap saat tanpa harus memakan waktu kerja.
  • Keseimbangan antara urusan rumah dan urusan pekerjaan, dengan menjaga keseimbangan problema rumah tangga dan problema pekerjaan maka seseorang berpeluang menurunkan tekanan pada dirinya seseorang. Hal ini dapat dibantu dengan selalu bersikap obyektif dalam menghadapi dan memilah kedua urusan tersebut. Seseorang  yang mencampuradukkan urusan rumah tangga dan urusan kantor akan sulit untuk mengurangi tekanan yang timbul pada dirinya.
  • Manajemen waktu, dengan mengalokasikan waktu kerja dan menetapkan skala priotiitas diharapkan dapat mengurangi tekanan pekerjaan terutama saat volume pekerjaan banyak dan sedang ada deadline.
  • Pengambilan jarak terhadap emosi, bersikap emosi adalah hal yang manusiawi namun emosi haruslah proposional. Dalam keadaan tertekan seseorang mudah mengumbar emosi, hal inilah yang sepatutnya dihindari.[3]

[1] http://www.detiknews.com/read/2007/10/03/044049/837085/10/mengenal-stres-dampaknya-bagi-kesehatan-jiwa

[2] http://www.reindo.co.id/reinfokus/edisi23/strees.htm

[3] http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20070627055331AAQ5Qut

Resume TEKLAB II (I)

29 Apr

EMOSI DAN STRESS

  1. Pengertian Emosi dan Stress
  1. Pengertian emosi

Istilah emosi menurut Daniel Goleman (1995), seorang pakar kecerdasan emosional, yang diambil dari Oxford English Dictionary memaknai emosi sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa emosi merujuk kepada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecendrungan untuk bertindak.[1]

Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangandari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis. Dalam kamus psikologi, emosi diartikan dalam bentuk yaitu fisik dan psikologis.[2] Dari segi fisik emosi adalah suatu keadaan yang komplek dari organisme (organ-organ tubuh), yang mencakup perubahan jasmani yang luas sifatnya antara lain pernapasan, denyut nadi dan lain-lain sebagainya.

  1. Secara spikologis emosi adalah suatu keadaan perangsang yang ditandai dengan perasaan yang kuat dan biasanya di sertai oleh dorongan kearah prilaku tertentu. Makna harfiahokfor english dictionary, emosi adalah setiap kegiatan dan pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap.
  2. Carl Lange, emosi adalah hasil persepsi seseorang terhadap perubahan-perubah yang terjadi pada tubuh sebagai respon terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari luar.
  3. Canon, emosi adalah keadaan perasaan yang disertai oleh beberapa perubahan psikologis
  4. Emosi-emosi anda adalah system petunjuk batin anda, didalam diri anda, anda memiliki kekuatan untuk menciptakan sebuah kepahagian hidup, kekayaan dan kesehatan. Dan sebaliknya, anda memiliki kemampuan yang sama untuk menciptakan sebuah kehidupan yang dipenuhi dengan tekanan, kepenatan, dan penyakit (Christiane Northrup).[3]
  1. Pengertian stress
  1. Danang Hawari, tress tidak dapat dipisahka dari distress dan depresi, karena satu sama lain saling berkaitan. Stress merupakan reaksi fisik terhadap permasalahan kehidupan yang dialami.
  2. Lazarus dan Folkman, stress adalah akibat dari ketidakseimbangan antara tuntunan dan kemampuan.
  3. H. Sel Y, stress adalah kelebihan beban tubuh baik fisik maupun psikis, sampai melampaui daya tahan, dengan kata lain tekanan yang dialami oleh orang baik fisik maupun psikis.
  1. Gejala Gangguan Emosi dan stress

1. Gejala gangguan emosi

  1. amarah, didalamnya meliputi brutal, mengantuk benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan, tindak kekerasan dan kebencian.[4]
  2. kesedihan, didalamnya meliputi pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, kesepian, ditolak, putus asa dan depresi.
  3. rasa takut, di dalamnya  meliputi cemas, takut, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, sedih, tidak tenang, ngeri, kecut, panik dan fobia.
  4. Kenikmatan, didalamnya meliputi bahagia, gembira, puas, riang, senang, terhibur, bangga, takjub, terpesona, puas, rasa terpenuhi, girang dan senang sekali.
  5. Cinta, didalmnya meliputi peneriman, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, hormat, kasmaran.
  6. Terkejut, meliputi takjub dan terpana.
  7. Jengkel, didalam meliputi jijik, muak, benci, tidak suka.
  8. Malu, didalamnya meliputi rasa bersalah, malu hati dall.

2. Gejala gangguan stres

Menurut Braham (dalam Handoyo; 2001:68), gejala stres dapat bcrupa
tanda-tanda berikut ini:

a)      Fisik, yaitu sulit tidur atau tidur lidak teratur, sakit kepala, sulit buang air
besar, adanya gangguan pencemaan, radang usus, kuiit gatal-gatal, punggung
terasa sakit, urat-urat pada bahu dan !eher terasa tegang, keringat berlebihan,
berubah selera makan, tekanan darah tinggi atau serangan jantung, kehilangan
energi.

b)      Emosional, yaitu marah-marah, mudah tersinggung dan terlalu sensitif,
gelisah dan cemas, suasana hati mudah berubah-ubah, sedih, mudah menangis dan
depresi, gugup, agresif terhadap orang lain dan mudah bermusuhan serta mudah
menyerang, dan kelesuan mental.

c)      Intelektual, yaitu mudah lupa, kacau pikirannya, daya ingat menurun, sulit
untuk berkonsentrasi, suka melamun berlebihan, pikiran hanya dipenuhi satu
pikiran saja.

d)      Interpersonal, yailu acuh dan mendiamkan orang lain, kepercayaan pada
orang lain menurun, mudah mengingkari janji pada orang lain, senang mencari
kesalahan orang lain atau menyerang dengan kata-kata, menutup din secara
berlebihan, dan mudah menyalahkan orang lain.[5]

  1. Sebab Timbulnya Emosi dan Stress

1. Timbulnya gangguan emosi

  1. perubahan jasmani, seiringnya dengan pertumbuhan jasmani yang kita alami maka kita hendaknya mampu memenej emosi kita kearah yang negatif.
  2. Perubahan pola interaksi dengan orang tua, pola asuh yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya berbeda-beda, ada yang penuh dengan kelembutan ada juga degan kekerasan. Perbedaan tersebut akan berpengaruh kepada emosi yang dimiliki oleh seorang anak.
  3. Perubahan interaksi dengan teman sebaya, pada tingkat ini emosi seorang anak sangat memuncak, orang tua hendaknya ikut serta dalam membimbing perkembanga seorang anak karena pada masa ini anak butuh perhatian dengan orang-orang terdekat terutama orang tua. Banyak anak pada usia ini terlibat dalam percintaan yang pada akhirnya frustasi ataupun sebaliknya.
  4. Perubahan pandang dunia luar, adapun pandang dunia luar yang menyebabkan terjadinya konflik adalah
  • Sikap dunia luar terhadap individu tidak konsisten
  • Masyarakat masih menerapkan nilai-nilai yang berbeda untuk individu laki-laki dan permpuan
  • Sering kali kekosongan individu dimanfaatkan oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab.
  • perubahan interaksi dengan sekolah ketika masih anak-ank sekolah merupakan tempat pendidikan yang sangat diminati oleh nereka. Guru merupakan orag sangat penting dalam kehidupan mereka selain tokoh intelektual, guru merupakan tokoh otoritas bagi peserta didiknya.[6]

2. Timbulnya gangguan stress

a. lingkungan

  • sikap lingkungan: beberapa tuntutan, pandang positif da negatif terhadap keberhasilanditerima bekerja
  • tuntutan dan sikap keluarga, contohnya keharusan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak yaitu sesuai denga pendidikan
  • perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK)

b. diri sendiri

  • kebutuhan psikologis yaitu keinginan yang harus diapai
  • proses internalisasi diri yaitu penyerapan terhadap yang diinginkan secara terus menerus sesuai dengan perkembangannya.

c. pikiran

  • berkaitan dengan penilai individu terhadap lingkungan dan pengaruhnya pada diri serta persepsi terhadap lingkungan

berkaitan dengan cara pernilaian diri tentang cara penyesuaian yang bisa dilakukan oleh individu yang bersangkutan.


[1] http://wawan-junaidi.blogspot.com/2009/10/pengertian-emosi-definisi-emosi.html

[2] Andi Mapiare, A.T, Kamus Istilah Konseling dan Terapi, jakarta: Raja grafindo persada

[3] Manz, Sekolah Emosi(petunjuk-petunjuk untuk meraih energi positif), Jakarta: Garailmu. 2009.cetakan pertama. Hal.65

[4] Tery Looker dan Olga gregson, Mengatasi Stress Secara Mandiri, Yogyakarta: panata Aksara, 2005

[5] http://sehat-enak.blogspot.com/2010/03/gangguan-stres-paska-trauma-pada-anak.html

[6] Muhammad Ali dkk, Psikologi Remaja, Jakarta: Bumi Aksara, 2006. hal. 69

HUBUNGAN ANTARA PRILAKU REMAJA DENGAN BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM

8 Jun

PENDAHULUAN

Manusia lahir sudah membawa fitrah, yaitu potensi nilai-nilai keimanan dan kebenaran hakiki. Fitrah ini berkedudukan di kalbu, sehingga dengan fitrah ini manusia secara rohani akan selalu menuntut aktualisasi diri kepada iman dan takwa dimanapun manusia berada. Namun ada yang bisa teraktualisasikan dengan baik dan ada pula yang tidak, dalam hal ini faktor lingkungan pada usia anak sangat menentukan. Manusia sebagai makhluk religius berkedudukan sebagai abidullah dan sebagaik halifatullah di muka bumi.
Abidullah merupakan pribadi yang mengabdi dan beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntunan dan petunjuk Allah.
Sesuai dengan fitrahnya manusia itu ia tumbuh dan berkembang dari bayi sampai ia tua, dari masa yang panjang itu banyak yang menyimpang dari fitrahnya, maka diperlukan nasihat atau ajakan untuk kembali kejalan yang benar. Dalam masalah ini remaja yang dalam masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju kemasa remaja, dimana pada masa ini semua yang ada pada diri individu akan berubah baik itu bentuk fisik, emosi, tingkah laku, intelektual, seksual dan lain-lain. Dari perubahan yang dialami remaja menimbulkan masalah baginya, ada yang merasa bahagia dan ada pula yang belum bisa menerimanya. Oleh karena itu, dalam menjalankan tugas perkembangan dan pertumbuhan pada masa remaja ini perlu adanya bimbingan dan konseling. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi tingkah laku dan prilaku yang menyimpang pada diri individu.
Bimbingan yang sangat dibutuhankan yaitu pertama kali dari orang tua yang bersangkutan karena orang tualah yang lebih tau kepribadian anak-anaknya, kemudian baru guru dimana dia disekolahkan, guru juga merupakan faktor yang sangat penting dalam memberikan bimbingan dan konseling terhadap anak remaja, karena peran seorang guru adalah sebagai pendidik.
Pada masa remaja ini, hendaknya banyak diterapkan kepada anak hal-hal yang berbau Islam, agar dalam melakukan sesuatu itu dia tidak semena-mena.. Bimbingan dan konseling Islam adalah proses pemberian bantuan terhadap individu agar ia mampu dalam melaksanakan kehidupan ini sesuai dengan syari’at islam yang bersumberkan Al-Quran dan sunah Rasulullah SWT.
Pada pembahasan berikutnya akan dibahas teknik-teknik, pendekatan, azas-azas, prinsip-prinsip dan pandangan islam terhadap prilaku serta hadis-hadis menganai mengenai prilaku remaja dan bagaimana hubungannya dengan bimbingan dan konseling Islam itu sendiri

PEMBAHASAN
HUBUNGAN ANTARA PRILAKU REMAJA DENGAN
BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
Bimbingan dan konseling sangat berperan penting untuk mengontrol prilaku yang akan diperbuat, dan menyelesaikan permasalahan. Apalagi bagi kalangan remaja yang baru menginjak masa remajanya, semua kepribadiannya berubah secara drastis baik itu fisik, intelegensi, emosional, suara, hormon seks dan lain-lainnya.
Perubahan yang dialamiya itu perlu adanya bimbingan dan konseling. Hal ini pertama kali dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya, yang kedua baru guru di tempat ia melakukan pendidikan. Jadi peranan bimbingan dan konseling ini sangat penting sekali bagi kehidupan anak remaja, apalagi bimbingan an konseling Islam. Agar ia mampu mengontrol perbuatan yang akan dilakukannya. Sementara bimbingan dan konseling islam itu sendiri adalah sebagai berikut:
A. Pengertian
Bimbingan dan konseling merupakan alih bahasa dari istilah inggris ”guidance and counseling” berarti memimpin, menuntun, memberikan petunjuk dan mengarahkan.Dalam kamus bahasa inggris istilah guidance dikaitkan dengan kata asal gaide, yang artinya menunjukkan jalan (showing the way), mengatur (regulating), mengarahkan (governing), dan memberikan nasehat (giving advice).
Dalam kamus bahasa inggris, counseling dikaitkan dengan kata counsel, yang diartikan sebagai berikut:
• Nasehat (to abtain counsel)
• Anjuran (to give counsel)
• Pembicaraan (to take counsel)
Jadi konseling diartikan sebagai pemberian anjuran dan pembicaraan denagan bertukar pikiran.
Adapun definisi bimbingan dan konseling Islam menurut para ahli adalah sebagai berikut:
1) Thohari, mengartikan bimbingan dan konseling Islam sebagai suatu proses pemberian bantuan terhadap individu agar menyadari kembali eksistensinya sebagai makhluk Allah SWT yang seharusnya hidup selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah SWT, sehingga dapat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
2) Yahya Jaya menyatakan bahwa bimbingan dan konseling agama Islam adlah pelayanan bantuan yang diberikan oleh konselor agama kepada manusia yang yang mengalami masalah dalam hidup keberagamaannya, ingin mengembangkan dimensi dan potensi keberagamaan seoptimal mungkin, baik secara individu maupun kelompok, agar menjadi manusia yang mandiri dan dewasa dalam beragama, dalam bidang bimbingan akidah, ibadah, akhlak dan muamalah, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan keimanan dan ketaqwaan yang terdapat dalam Qur’an dan Hadits.
3) Ainur Rahim Faqih, mengartikan bahwa bimbingan dan konseling Islam adalah proses pemberian bantuan terhadap individu agar mampu hidup selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah SWT, sehingga dapat mencapai kebahagian dunia dan akhirat.
Menurut Dr. Kamal Ibrahim Mursi, aktifitas konseling agama yang dijumpai pada zaman klasik Islam dikenal dengan nama hisbah, atau ihtisab, konselornya disebut muhtasib, dan klien dari hisbah tersebut dinamakan muhtasab ‘alaih.
Hisbah menurut pengertian syara’ artinya menyuruh orang (klien) untuk melakukan perbuatan baik yang jelas-jelas ia tinggalkan, dan mencegah perbuatan munkar yang jelas-jelas dikerjakan oleh klien (amar ma’ruf nahi munkar) serta mendamaikan klien yang bermusuhan. Hisbah merupakan panggilan, oleh karena itu muhtasib melakukannya semata-mata karena Allah, yakni mem¬bantu orang agar dapat mengerjakan hal-hal yang menum¬buhkan kesehatan fisik, mental dan sosial, dan menjauhkan mereka dari perbuatan yang merusak. Panggilan untuk melakukan hisbah didasarkan kepada firman Allah:
  •             
Artinya : ”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S Ali Imran : 104)

Bebicara tentang agama terhadap kehidupan manusia memang cukup menarik, khususnya Agama Islam. Hal ini tidak terlepas dari tugas para Nabi yang membimbing dan mengarahkan manusia kearah kebaikan yang hakiki dan juga para Nabi sebagai figure konselor yang sangat mumpuni dalam memecahkan permasalahan (problem solving) yang berkaitan dengan jiwa manusia, agar manusia keluar dari tipu daya syaiton. Seperti tertuang dalam ayat berikut ini :
“Demi masa. Sungguh manusia dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan melakukan amal kebaikan, saling menasehati supaya mengikuti kebenaran dan saling menasehati supaya mengamalkan kesabaran”. (Al-Ashr :1-3)

Dengan kata lain manusia diharapkan saling memberi bimbingan sesuai dengan kemampuan dan kapasitas manusia itu sendiri, sekaligus memberi konseling agar tetap sabar dan tawakal dalam menghadapi perjalanan kehidupan yang sebenarnya.
“Berkata orang-orang tiada beriman:”Mengapa tiada diturunkan kepadanya (Muhammad) sebuah mukjizat dari Tuhannya?” Jawablah :”Allah membiarkan sesat siapa yang Ia kehendaki, dan membimbing orang yang bertobat kepada-Nya.” (Ar-Ra’d :27)

Dari ayat-ayat tersebut dapat dipahami bahwa ada jiwa yang menjadi fasik dan adapula jiwa yang menjadi takwa, tergantung kepada manusia yang memilikinya. Ayat ini menunjukan agar manusia selalu mendidik diri sendiri maupun orang lain, dengan kata lain membimbing kearah mana seseorang itu akan menjadi, baik atau buruk. Proses pendidikan dan pengajaran agama tersebut dapat dikatakan sebagai “bimbingan” dalam bahasa psikologi. Nabi Muhammad SAW, menyuruh manusia muslim untuk menyebarkan atau menyampaikan ajaran Agama Islam yang diketahuinya, walaupun satu ayat saja yang dipahaminya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa nasihat agama itu ibarat bimbingan (guidance) dalam pandangan psikologi.
Bentuk amar ma’ruf dalam hisbah ialah menyuruh dan menghendaki kliennya mengerjakan yang ma’ruf, yakni semua hal yang dituntut syara, termasuk perbuatan dan perkataan yang membawa kemaslahatan bagi individu dan masyarakat, yang wajib maupun yang sunat. Sedangkan bentuk nahi munkar dalam hisbah ialah meminta klien menjauhi yang munkar, yakni semua yang dilarang syara`, termasuk perbuatan dan perkataan yang mendatangkan kesulitan bagi pribadi dan masyarakat.
Konseling/ hisbah dilakukan dengan prinsip suka sama suka, bersifat sugesti dan introspeksi, sehingga klien menyadari betul manfaat perbuatan ma’ruf dan bahayanya perbuatan munkar, dan dengan itu klien terdorong pada perbuatan baik dan allergi terhadap yang mungkar, kuat motivasi positipnya dan padam motivasi negatipnya. hisbah juga dilakukan dengan lemah lembut.
Nabi pernah mencontohkan bagaimana menanamkan suatu pengertian kepada orang yang memang belum memiliki pengertian tentang suatu kebaikan dan kemunkaran. Terdapat dalam hadis yang arinya sebagai berikut:
Artinya: ”Seorang pemuda mendatangi Rasul dan bertanya secara lantang di hadapan orang banyak; Wahai Nabi Allah, apakah engkau dapat mengizinkan aku untuk berzina? Mendengar pertanyaan yang tidak sopan itu orang-orang ribut mau memukulinya, tetapi Nabi segera melarang dan memanggil, Bawalah pemuda itu dekat-dekat padaku. Setelah pemuda itu duduk di dekat Nabi, maka Nabi dengan santun bertanya kepada pemuda itu: Bagaimana jika ada orang yang akan menzinahi ibumu? Demi Allah aku tidak akan membiarkannya, kata pemuda itu. Nabipun meneruskan, nah begitu pula orang tidak akan membiarkan hal itu terjadi pada ibu mereka. Bagaimana jika terhadap anak perempuanmu? Tidak, demi Allah, aku tidak akan membiarkannya, kata pemuda itu. Nabi melanjutkan, bagaimana jika terhadap saudara perempuanmu? Tidak juga, ya Rasul, Demi Alah aku tidak akan membiarkannya, kata si pemuda. Nabi meneruskan, Nah begitu juga orang tidak akan membiarkan putrinya atau saudara perempuanya atau bibinya dizinahi. Nabi kemudian meletakkan tangannya ke dada pemuda itu sambil berdoa; Ya Allah bersihkanlah hati pemuda ini, ampunilah dosanya dan jagalah kemaluannya. (H.R. Ahmad dari Abu Umamah)

Menurut parawi hadis tersebut, sejak peristiwa itu sang pemuda tidak lagi menengok kiri kanan untuk berbuat zina.
Dalam hadis itu jelas digambarkan bahwa dalam menghadapi pemuda itu Nabi tidak menempatkan diri sebagai subyek yang melarang atau memberi nasehat, tetapi hanya mengantar sang pemuda untuk berfikir jernih tentang implikasi zina bagai orang lain, dan selanjutnya sang pemuda itulah yang harus menjadi subyek dirinya untuk memutuskan sendiri apa yang terbaik bagi dirinya. Secara psikologis, manusia memang satu-satunya makhluk yang bisa menjadi subyek dan obyek sekaligus.
Terkait dengan hal diatas, agar remaja tidak terjerumus kepada prilaku yang menyimpang, tidak melanggar norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku disuatu daerah, maka dari usia dini sampai pada usia remaja perlu diberi bimbingan dan konseling agar bisa merasakan kebahagian hidup didunia dan kehidupan yang bahagia diakhirat nantinya. Seperti yang dijelaskan oleh hadis dibawah ini:

Artinya: Dari Abu Rozin RA. Katanya: Rasulullah SAW bersabda kepadanya: bolehkah aku tujukkan kepadamu tentang dasar pokok (bagi agama ini)?. Dimana dengan dasar ini engkau bisa mendapatkan kebaikkan dunia dan akhirat, yaitu: Engkau harus memperhatikan pertemuanmu dengan para penzikir, dan bila engkau sendirian, gerakkanlah lidahmu sebanyak yang kau bisa dengan berzikir kepada Allah. Cintailah dan bencilah semata-mata karena Allah. Hai Abu Rozin, merasakan atau tahukah engkau bahwa seseorang itu bisa keluar dari rumahnya guna berziarah kepada saudaranya (sesama muslim), diantara tujuh puluh ribu malaikat.

Dari hadist diatas dapat ditafsirkan bahwa seseorang itu harus mengajak orang lain kejalan yang diridhoi oleh Allah yang berdasarkan agama Islam, untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat.
Dengan diberikannya bimbingan dan konseling kepada para remaja, sebelumnya kita sudah mengetahui bahwasanya pada masa remaja segala sesuatu yang ada dalam diri remaja sedang bergejolak. Nah….untuk mengatasi itu semua perlu adanya bimbingan dan konseling terhadap prilaku remaja tersebut.
Oleh sebab itu antara konselor dan orang tua serta guru bekerjasama, jika anak terlibat dalam masalah penyalah gunaan obat, alkohol, kecanduan makanan karena hal itu dapat merusak kepada diri individu dan juga lingkungan masyarakat.
Ada dua alasan mendasar mengapa bimbingan dan konseling Islami ini adalah sebagai berikut:
1) Islam mempunyai pandangan-pandangan tersendiri mengenai manusia. Al-Qur’an sumber utama agama islam, adalah kitab petunjuk, didalamnya terdapat banyak petunjuk mengenai manusia. Allah, sebagai pencipta manusia tentunya tahu secara nyata dan pasti siapa manusia. Oleh karena itu, kalau ingin tahu bagaimana cara menghadapi manusia secara sungguh-sungguh, maka Al-Qur’an (wahyu) adalah sumber yang layak dijadikan acuan utama dan tidak pantas untuk diucapkan.
2) Ajaran islam dapat menjadi acuan sebagai landasan yang ideal dalam menjalani kehidupan.
B. Teknik-Teknik Konseling
Agar proses bimbingan dan konseling itu bisa berjalan dengan lancar dan sesuai dengan hasil yang diinginkan. Maka seorang konselor harus melakukannya secara positif dan dinamis yang merupakan modal pengembangan diri untuk masa depannya.
Seorang konselor harus memiliki sifat sabar dan penyayang terhadap klien agar dalam pemberian bimbingan dan konseling, klien mau curhat atau menceritakan masalahnya kepadanya (konselor). Hal itu juga memudahkan seorang konselor dalam melakukan bimbingan dan konseling . dalam Hadist yang diriwayatkan ole Muttafaqun ’Alaih mengatakan:
عن أنس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قل: لايوء من أحدكم حتى يحب لأ خيه ما يحب لنفسه.
Artinya: Tidaklah seseorang beriman sampai ia mencintai saudaranya (sesama manusia) seperti menyintai dirinya sendiri. (Muttafaqun ’Alaih).

Adapun teknik-teknik konseling itu adalah sebagai berikut:
1) Persiapan untuk konseling, yaitu merupakan suatu kondisi yang harus dipenuhi sebelum klien membuat hubungan konseling, seperti mengenal konseli atau diri klien tersebut.
2) Teknik-teknik hubungan, yaitu antara konselor dan klien merupakan inti proses konseling dan psikoterapi. Adapun teknik-teknik hubungan ini adalah sebagai berikut:
a. Teknik Rapport, bertujuan untuk menjabatani hubungan antara konselor dengan klien, sikap penerimaan dan minat dan masalahnya.
b. Refleksi Perasaan, usaha yang dilakukan konselor untuk menyatakan dalam bentuk kata-kata yang segar dan sikap yang esensial (perlu).
c. Teknik-teknik Penerimaan, merupakan tindakan yang dilakukan konselor agar klien diterima dalam proses konseling.
d. Teknik Menstrukturkan, merupakan penetapan batasan oleh konselor tentang hakekat, batasan-batasan dan tujusn batasan konseling pada umumnya, dan hubungan tertentu pada khususnya.
e. Diam adalah sebagai suatu teknik
f. Teknik-teknik Memimpin, seorang konselor itu harus bisa mengarahkan pemikiran klien kepada jalan yang benar untuk masa depannya.
g. Memberikan Jaminan, yaitu merupakan pemberian ganjaran dimasa yang akan datang.
h. Keterampilan Mengakhiri, seorang konselor dalam mengakiri pembicaraannya dengan klien, harus berdasarkan waktu yang telah disepakati bersama, sebelum mengadakan pembicaraan.

C. Pendekatan-Pendekatan Bimbingan Konseling
Pendekatan Islami dapat dikaitkan dengan aspek-aspek psikologis dalam pelaksanaan bimbingan konseling yang meliputi pribadi, sikap, kecerdasan, perasaan, dan seterusnya yang berkaitan dengan klien dan konselor.
Bagi pribadi muslim yang berpijak pada pondasi tauhid pastilah seorang pekerja keras, namun nilai bekerja baginya adalah untuk melaksanakan tugas suci yang telah Allah berikan dan percayakan kepadanya, ini baginya adalah ibadah. Sehingga pada pelaksanaan bimbingan konseling, pribadi muslim tersebut memiliki ketangguhan pribadi tentunya dengan prinsip-prinsip sebagai berikut :
1) Selalu memiliki Prinsip Landasan dan Prinsip Dasar yaitu hanya beriman kepada Allah SWT.
2) Memiliki Prinsip Kepercayaan, yaitu beriman kepada malaikat.
3) Memiliki Prinsip Kepemimpina, yaitu beriman kepada Nabi dan Rasulnya.
4) Selalu memiliki Prinsip Pembelajaran, yaitu berprinsip kepada Al-Qur’an Al Karim.
5) Memiliki Prinsip Masa Depan, yaitu beriman kepada “Hari Kemudian”
6) Memiliki Prinsip Keteraturan, yaitu beriman kepada “Ketentuan Allah”
Jika konselor memiliki prinsip tersebut (Rukun Iman) maka pelaksanaan bimbingan dan konseling tentu akan mengarahkan klien kearah kebenaran, selanjutnya dalam pelaksanaannya pembimbing dan konselor perlu memiliki tiga langkah untuk menuju pada kesuksesan bimbingan dan konseling. Pertama, memiliki mission statement yang jelas yaitu “Dua Kalimat Syahadat”, kedua memiliki sebuah metode pembangunan karakter sekaligus symbol kehidupan yaitu “Shalat lima waktu”, dan ketiga, memiliki kemampuan pengendalian diri yang dilatih dan disimbolkan dengan “puasa”. Prinsip dan langkag tersebut penting bagi pembimbing dan konselor muslim, karena akan menghasilkan kecerdasan emosi dan spiritual (ESQ) yang sangat tinggi (Akhlakul Karimah). Dengan mengamalkan hal tersebut akan memberi keyakinan dan kepercayaan bagi counselee yang melakukan bimbingan dan konseling.
Adapun pendekatan-pendekatan bimbingan dan konseling itu secara umum adalah sebagai berikut:
1. Pendekatan Bimbingan
Pendekatan bimbingan ini tedapat empat macam yaitu:
a. Pendekatan krisis, merupakan suatu usaha bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami krisis/masalah. Bimbingan ini dilakukan agar dapat mengatasi krisis yang dialami oleh individu.
b. Pendekatan Remedial, pendekatan merupakan upaya bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami kesulitan. Seorang konselor harus paham dengan kelemahan yang dimiliki klien seperti ini. Seperti halnya remaja, kalau ia mendapatkan kesulitan-kesulitan dalam dirinya maka kita sebagai konselor mampu meredamkam emosinya disaat itu yaitu dengan cara bersosialisasi dengannya.
c. Pendekatan Preventif, pendekatan ini merupakan upaya bimbingan yang diarahkan untuk mengantisipasi masalah-masalah umum individu dan mencegah supaya tidak terjadi masalah yang tidak diinginkan terhadap individu tersebut. Sebagai seorang konselor, ia akan berupaya untuk memberikan semacam keterampilan kepada klien agar tidak terjadi permasalahan pada diri individu.
d. Pendekatan Perkembangan, pada saat ini bimbingan dan konseling yang berkembang adalah visi bimbingan dan konseling edukatif, pengembangan dan out reach.
Edukatif adalah dikarenakan titik berat kepedulian bimbingan dan konseling, terletak pada pencegahan bukan korekti atau teropolitik. Pengembangan, karena titik sentral tujuan bimbingan dan konseling adalah perkembangan optimal dan strategi upaya pokoknya adalah memberikan kemudahan perkembangan bagi individu melalui perekayasaan lingkungan perkembangan out reach, karena terget populasi layanan bimbingan dan konseling tidak terbatas kepada individu bermasalah dan dilakukan secara individual tetapi meliputi ragam dimensi (masalah,target intervansi, setting,metode dan lama waktu layanan) dalam rentang kucup lebar.
Teknik yang dilakukan dalam bimbingan dan konseling perkembangan adalah pembelajaran, pertukaran informsi, bermain peran, tutorial dan konseling.
2. Pendekatan Dalam Konseling
Adapun pendekatan dalam konseling ini diantaranya sebagai berikut:
a. Pendekatan konseling non-Direktif
Pendekatan konseling non-Direktif disebut dengan ”Client Centared Counseling”, yaitu memberikan gambaran bahwasanya proses konseling yang menjadi pusatnya adalah klien dan bukan konselor.
Dalam pemecahan masalah, maka konselor mendorong klien itu sendiri untuk memecahkan masalah yang dihadapinya (klien) serta apa solusi terbaik terhadap masalah yang dihadapinya itu. Konseling non-Direktif ini dikembangkan oleh Carl R.Rogers.
b. Pendekatan konseling rasional-Emoti
Pendekatan konseling rasional-Emotif ini dikenal juga dengan istilah ”rasional-emotive therapi”. Teori ini dikembangkan oleh Dr.albertEllis,seorang ahli psikologi klinir. Tujuan dari pendekatan rasional-emotive therapy Albert Ellis pada dasarnya adalah untuk mengatasi pikiran yang tidak logis tentang diri sendiri dan lingkungannya.Konselor berusaha agar klien menyadari pikiran dan kata-katanya sendiri,serta mengadakan pendekatan yang tegas,melatih klien untuk bisa berpikir dan berbuat lebih realistisdan rasional.
c. Pendekatan konseling Analisis Transaksional
Pendekatan konseling analisis transaksional adalah dimana individu yang lebih banyak berperan sebagai fasilitator dalam proses kelompok dan juga sebagai pemimpin yang memiliki keahlian dalam menganalisis status ego, transaksi, permainan dan naskah hidup (life script).
Selain itu konselor juga harus memiliki kapasitas diri sendiri untuk mengadakan interaksi, komunikasi atau transaksi dengan klien secara terbuka,penuh kehangatan dan murni.
Seorang konselor yang profesional ia bisa membaca,mengamati tingkah laku klien, baik secara langsung maupun tidak langsung,baik verbal maupun non verbal tujuannya agar mudah menentukan kepribadian seseorang itu (individu).

d. Pendekatan konseling klinikal
Pendekatan konseling klinikal yang dikembangkan oleh Williamson adalah bentuk pendekatan yang logis dan rasional ini tidakb berorientasi pada intelektualisme,tetapi beroriantasi pada personalisme,yaitu pendekatan yang memandang secara keseluruhan.
Tujuan konseling bukanlah semata-mata mengembangkan kemampuan intelektual,tetapi juga membantu klien untuk meningkatkan kematangan sosial dan emosionalnya sesuai dengan potensi yang dimiliki seorang individu tersebut
Dari penjelasan diatas maka dapat dikatakan bahwa tujuan bimbingan dan konseling itu mengalami perubahan,dari yang sederhana sampai ke yang lebih komprehensif.
D. Asas- Asas Bimbingan Dan Konseling Islam
Sebagaimana yang telah disebutkan diatas bahwa bimbingan dan konseling itu berlandasan pada Al-Qur’an dan hadis atau sunnah Nabi, selain itu bimbingan dan konseling islami juga berlandasan filosofi dan landasan keimanan. Berdasarkan landasa-landasan tersebut maka bimbingan dan konseling islami itu memiliki azas-azas sebagai berikut:
1. Asas-asas kebahagian dunia dan akhirat
Bimbingan dan konseling islami tujuan akhirnya adalah membantu klien atau konseli, yaitu orang yang dibimbing, mencapai kebahagian hidup yang senantiasa didambakan oleh umat muslim.
Bagi orang muslim kehidupn di dunia ini hanyalah sementara, kebahagian akhiratlah yang utama dan abadi. Maka kebahagian di akhirat itu dirahih hanya dengan amal yang baik yang dilakukan ketika hidup di dunia. Tapi Allah juga menyuruh umat manusia untuk menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat.
2. Asas fitrah
Bimbingan dan konseling islami merupakan bantuan kepada klien atau konseli untuk mengenal, memahami dan menghayati fitrahnya, sehingga segala gerak tingkah laku dan tindakannya ejalan dengan fitrahnya tersebut.
Manusia, menurut islam, dilahirkan dengan membawa fitrah, yaitu berbagai potensi bawaan dan kecendrungan sebagai muslim atau beragama islam. Bimbingan dan konseling membantu klien untuk mengenal dan memahami fitrahnya itu, menghayatinya, sehingga mampu mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat karena bertingkah laku sesuai dengan fitrahnya itu. Terkadang fitrah juga diartikan sebagai bakat, minat, kemampuan dan potensi.
Bimbingan dan konseling islami diselenggarakan benar-benar karena Allah. Jadi konsekuensi bimbingaan ini diselenggarakan dengan penuh keikhlasan, tanpa pamrih, dan begitu juga yang dibimbing, hendaknya ia tidak merasa terpaksa untuk melaksanakan bimbingan tersebut.
3. Asas bimbingan seumur hidup
Manusia yang hidup tidak ada yang sempurna dan selalu bahagia. Dalam kehidupan banyak hal kesulitan dan hambatannya, oleh sebab itu bimbingan dan konselig sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi itu.
4. Asas kesatuan jasmani-rohani
Manusia dalam kehidupan ini merupakan satu kesatuan jasmani dan rohani. Konselor memperlakukan klien sebagai makhluk yang jasmani-rohani. Dan tidak memandang sebagai makhluk yang biologis semata, makhluk rohaniah semata. Bimbinga konseling islami membantu individu untuk hidup dalam keseimbangan jasmani dan rohani tersebut.
5. Asas keseimbangan rohaniah
Rohani manusia memiliki unsur daya kemampuan pikir, merasakan atau menghayati dan kehendak atau hawa nafsu, serta juga akal. Kemampuan ini merupakan sisi lain kemampuan fundamental pontensial untuk:
• Mengetahui (mendengar)
• Memperhatikan atau menganalisis (melihat dengan bantuan atau dukungan pikiran
• Menghati (hati atau dengan dukungan kalbu dan akal.
Bimbingan dan konseling islami menyadari kodrati manusia tersebut dan dengan berpijak pada firman-firman Allah serta hadis nabi, membantu klien agar memperoleh keseimbangan diri dalam segi mental rohaniah tersebut.
Konselor mengajak klien untuk berpikir dalam menentukan dan memutuskan suatu perkara sehingga memperoleh kenyakinan, tidak menerima begitu saja dan tidak menolak begitu saja. Orang yang dibimbing diajak untuk menginternalisasikan norma dengan mempergunakan semua kemampuan rohaniah potensialnya tersebut, bukan hanya mengikuti hawa nafsu (perasaan dangkal, kehendak) semata.
6. Asas kemaujudan individu
Bimbingan dan konseling islami, berlangsung pada citra manusia menurut islam, memandang seseorang individu merupakan suatu maujud (eksistensi) tersendiri. Individu mempunyai hak , mempunyai perbedaan individu dari yang lainnya, dan mempunyai kemerdekaan pribadi sebagai konsekuensi dari haknya dan kemampuan fundamentalpotensial rohaniahnya.
7. Asas sosialitas manusia
Manusia merupakan makhluk sosial, hal ini diakui dan diperhatikan dalam bimbingan dan konseing islam. Pergaulan, cinta kasih, rasa aman, penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain, rasa memiliki dan dimmiliki, semuanya merupakan aspek-aspek yang diperhatikan dalam bimbingan dan konselig islam, karena merupakan ciri hakiki manusia.
Dalam bimbingan dan konseling islami, sosialitas manusia diakui dengan memperhatikan hak individu dan hak individu juga diakui dalam batas tanggung jawab sosial, jadi bukan liberalisme, dan masih pula hak alam yang harus dipenui manusia (prinsip ekosistem), dan masih pula tuhan.
8. Asas kekhalifahan manusia
Manusia, menurut islam, diberi kedudukan yang tinggi sekaligus tanggug jawab yang besar yaitu, sebagai pengelola alam semesta (khalifatullah fi ard). Manusia dipandang sebagai makhluk yang berbudaya yang mengelola alam dengan sebaik-baiknya. Sebagai khalifah, manusia harus menjaga keseimbangan ekosistem, kerena problem-problem kehidupan sering kali terjadi karena ketidak seimbangan ekosistem tersebut yang diperbuat oleh manusia itu sendiri.
Jadi dalam hal ini perlunya bimbingan dan koseling diadakan untuk manusia, kalau dibirkan saja maka banyak diantara manusia mengabaikannya dan tidak perduli terhadap lingkungan
9. Asas keselarasan dan keadilan
Islam menghendaki keharmonisan, keselarasan, keseimbangan, keserasian dalam segala segi. Dengan kata lain islam menghendaki manusia berlaku adil terhadap hak dirinya sendiri, hak orang lain, hak alam semesta (hewan ,tumbuh-tumbuhan, dsb), dan juga hak tuhan.

10. Asas pembinaan akhlaqul-karimah
Manusia menurut islam memiliki sifat-sifat yang baik (mulia), sekaligus mempunyai sifat-sifat yang lemah, sepertyang telah diuraikan dalam mengenai citra manusia. Sifat-sifat yang merupakan yang harus dikembangkan oleh bimbingan dan konseling islami. Bimbingan dan konseling islami membantu klien dalam mengembangkan, memelihara dan menyempurnakan sifat-sifat yang baik tersebut.
Sesuai dengan hadis nabi yang berbunyi sebagai berikut:
Artinya: Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia (H. R. Ahmad dan Thabrani dari Abu Hurairah).
11. Asas kasih sayang
Setiap manusia memerlukuan cinta kasih dan rasa sayang dari orang lain. Rasa kasih sayang ini dapat mengalahkan dan menundukkan banyak hal. Bimbingan dan konseling islami dilakukan dengan berlandasan kasih sayang, sebab dengan kasih sayanglah bimbingan dan konseling akan berhasil.
12. Asas saling menghargai dan menghormati
Dalam bimbingan dan konseling islam kedudukan konselor dengan klien pada dasarnya sama atau sederajat, perbedaannya terletak pada fungsinya saja, yakni pihak yang satu membeerikan bantuan dan yang satu menerima bantuan.hubungan yang terjalin antara konselor dan klien adalah hubungan yang saling menghargai dan menghormatisesuai dengan kedudukannya masing-masing sebagai makhluk allah.
Pembimbing diberi penghargaan karena mampu memberikan bantuan kepada orang lain yang mengalami kesulitan.
13. Asas musyawarah
Bimbingan dan konseling islami dilakukan dengan asas musyawarah artinya antara antara pembimbing dengan yang dibimbing terjadi dialog yang baik, satu sama lain tidak saling mendiktekan, tidak ada perasaan tertekan dan keinginan tertekan.
14. Asas keahlian
Bimbingan dan konseling islami dilakukan oleh orang-orang yang memangmemiliki kemampuan dan keahlian di bidang tersebut, baik keahlian dalam metodologi dan teknik-teknik bimbingan dan konseling, maupun dalam bidang yang menjadi permasalahan bimbingan dan konseling.

E. Prinsip-Prinsip Bimbingan Dan Konseling
Dalam memberikan bimbingan dan konseling perlu diperhatiakan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a) Prinsip-prinsip umum
• Bimbingan harus berpusat pada individu yang dibimbing
• Bimbingan diarahkan kepada memberikan bantuan agar individu yang dibimbing mampu mengarahkan dirinya dan menghadapi masalah-masalah yang dalam dirinya
• Pemberi bantuan disesuai dengan kebutuhan individu yang dibimbing
• Bimbingan berkenaan dengan sikap dan tingkah laku individu
• Pelaksanaan bimbingan dan konseling dimulai dengan mengidentifikasikan kebutuhan yang dirasakan individu yang dibimbing
• Upaya pemberian bantuan (pelayanan bimbingan dan konseling) harus dilakukan secara fleksibel (tidak kaku)
• Program bimbingan dan konseling harus dirumuskan sesuai dengan program pendidikan dan pembelajaran di sekolah yang bersangkutan
• Implementasi program bimbingan dn konseling harus dipimpin oleh orang yang memiliki keahlian dalam bidang bimbingan dan konseling dan pelaksanaannya harus bekerjasama dengan berbagai pihak yang terkait seperti dokter, psikiater, dll
• Untuk mengetahui hasil-hasil yang diperoleh dari upaya pelayanan bimbingan dan konseling, harus diadakan penilaian atau evaluasi secara teratur dan berkesinambungan.
b) Prinsip-prinsip Khusus Yang Berhubungan Dengan Individu
• Pelayanan bimbinagan dan konseling harus diberkan kepada semua siswa
• Harus ada kriteria untuk mengatur prioritas pelayanan bimbingan dan konseling kepada individu
• Program bimbingan dan konseling harus berpusat pada siswa
• Untuk memenuhi kebutuhan individu
• Keputusan akhir dari bimbingan dan konseling diserahkan pada individu
• Bagi siswa yang telah mendapatkan bimbingan hendaknya mampu merubah dirinya sendiri.
c) Prinsip Khusus yang berhubungan deng pembimbing
• Pembimbing atau konselor harus melakukan tugas sesuai dengan kemampuannya masing-masing
• Pembimbing disekolah dipilih berdasarkan kualifikasi kepribadaian, pendidikan, pengalaman daan kemampuannya
• Sebagai profesi, pembimbing haru mengembangkan diri dan keahliannya melalui berbagai pelatihan seperti penataran, work shop dll
• Pembimbing hendaknya mempergunakan berbagai informasi tentang diri individu
• Pembimbing harus merahasiakan informasi tentang diri individu
• Pembimbing dalam melaksanakan tugasnya hendaknya dengan menggunakn metode dan teknik.
d) Prinsi yang berhubungan dengan organisasi dan administrasi (manajemen) pelayanan bimbingan dan konseling
• Bimbingan dan konseling harus ada dikartu pribadi bagi setiap siswa
• Pelayanan bimbingan dan konseling harus disusun sesuai dengan kebutuhan
• Harus ada pembagian waktu antar pembimbing, sehingga masing-masing pembimbing mendapat kesempatan yang sama dalam memberikan bimbingan dan konseling
• Bimbingan dan konseling dilakukan dalam situasi indivi atau kelompok sesuai dengan masalah yang dipecahkan dan metode yang digunakan
• Harus bekerja sama dalam berbagai pihak.

F. Hubungan Antara Bimbingan dan Konseling Islam Dengan Prilaku Remaja
Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, bahwasanya bimbingan dan konseling islami ini dapat membantu permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh remaja. Apalagi bila dilihat dari segi perubahannya, remaja itu sangat butuh bimbingan dan konselinag untuk mengontrol dan mengatasi tingkah laku dan memecahkan masalahnya sesuai dengan syariat islam yaitu yang bersumber kepada Al-Quran dan Hadis nabi SAW.
Al-Quran dan Hadis merupakan landasan utama dalam bimbingan dan konseling Islam, jadi tidak akan tersesaat jika segala perbuatan yang kita lakukan berlandasan kepadanya.
Sesuai dengan bunyi asas-asas, teknik-teknik dan prinsip-prinsip yang ada dalam konseling islam, seperti yang telah dipaparkan diatas, bahwasaya antara pembimbing dan yang dibimbing memiliki peran masing-masing:
 Pembimbing dalam menjalankan tugasnya harus menjalankan kaidah-kaidah yang telah tercantum dalam bimbingan dan konseling, terutama bimbingan yang terdapat dalam bibingan dan konseling islam.
Dimana salah satunya, untuk merubah dan mengarahkan remaja kajalan dan kaprilaku yang sesuai dengan syariat Islam yaitu seorang pembimbing hendaknya menjalin silaturahmi yang baik, berakhlak dan taqwa kepada Allah.
Seorang pembimbing hendaknya menceminkan akhalak yang baik karena pembimbing merupakan guru yang akan di contoh baik itu dari adab bergaul, berbicara, prilaku dan lain-lain.
 Sebagai seorang peserta didik atau klien, dai juga harus mematuhi dan menjalankan aturan-aturan yang ada dalam bimbingan dan konseling, kalau ia mau masalah-masalah yang ada pada dirinya ingin diselesaikan dengan baik.
Jadi hubungan antara prilaku remaja dengan bimbingan dan konseling islam itu adalah agar terciptanya remaja-remaja Islam yang terbebas dari masalah dan tujuan akhirnya adalah untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat.

PENUTUP

A. Kesimpulan
Konseling Islami sangat berperan dalam menolong klien terutama pada masa remaja yang dalam masa kegoncangan. Konseling Islami tujuannya adalah untuk mencapai kebahagian Dunia dan Akhirat dengan mengembalikan manusia ke fitrahnya sehingga ia mengenali posisi dan kedudukannya dimuka bumi ini yakni sebagai khalifah dan hamba Allah SWT.
Setiap prilaku yang dilakukan oleh seseorang itu perlu adanya kontrolan dari seseorang yang bisa mengontrolnya yaitu orang tua sebagai pembimbing utama dan guru sebagai pembimbing kedua setelah orang tua. Setiap masalah yang terjadi itu ada jalan keluarnya jika kita mau menceritakan masalah kita pada orang tertentu.
Bimbingan dan konseling islam merupakan suatu hal yang sangat perperan penting untuk membentuk tingkah laku, sikap, sifat dll remaja kerena konseling islam bisa membentuk dan meredakan emosi seseorang, bimbingan dan koneling Islam ini berlandaskan Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW, tapi hal yang harus diingat..seperti hadi nabi yang bebunyi ”Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai dirinya sendirinya sendiri yang akan merobahnya”.
B. Kritik dan Saran
Berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan, konsep konsling tentang hakikat remaja dan hubungan konseling dengan prilaku remaja pada makalah ini bukan merupakan konsep yang sudah lengkap dan final, maka untuk melengkapi dan menyempurnakan kajian ini disarankan kepada pembaca untuk meneruskan menggali dan meneliti konsep konseling mengenai prilaku remaja berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an, baik memperluas atau memperdalam kajian dalam topik yang sama, atau meneruskan kepada konsep-konsep konseling yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Abbas, ziyat. Pilihan Hadis Poltik, Ekonomi dan Sosial. Jakarta: Panjimas. 1991
Hallen. Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Quantum Teaching. 2005
John, McLEOD. Pengantar Konseling (teori dan studi kasus). University Press. 2003
Musnamar, thohari. Dasar-Dasar Konseptual Bimbigan dan Konseling Islam. Yogyakarta: UUI Press. 1992
Prayitno dan Erman Amati. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Rineka Cipta
Sukardi, dewa ketut. Bimbingan dan Konseling Di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta. 2002. Cet. 1
Surya, mohamad. Psikologi Konseling. Bandung: CV. Pustaka Bani Quraisy. 2003. Cet.1
Thohirin. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Dimadrasah. Jakarta: PT. Raja Grafino Persada. 2007
http://islamintelek. Blogspot. Com/2007/11/bimbingan-dan-Konseling-Islam. Htm

http://kaunseling.multiply.com/journal/item/15
http://www.kampusislam.com/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=230

Pendidikan Anak Tanggung Jawab Siapa??

8 Jun

Keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan, baik dalam lingkungan masyarakat Islam maupun non-Islam. Karena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupanya (usia pra-sekolah). Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah sudahnya.
Dari sini, keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat. Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan personil-personilnya.
Islam mengajarkan pendidikan jauh sebelum anak dilahirkan yakni sewaktu mengandung anak bahkan jauh dari itu yakni sewaktu masih dalam memilih jodoh pun harus sudah diperhitungkan guna pendidikan anak dan masa depan anak.
Mendidik anak sangatlah urgen dalam Islam dan sangat menentukan masa depan anak nantinya maka pendidikan untuk anak harus sangat diperhatikan, sebab jikalau tidak masa depannya akan hancur dan jangan berharap ia akan dapat menjadi anak yang sholeh yang akan mendoakan kedua orang tuanya. Seperti bunyi hadis:
“Apabila manusia mati maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, atau anak shaleh yang mendo’akannya.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah)

Syaikh Abu Hamid Al Ghazali ketika membahas tentang peran kedua orangtua dalam pendidikan mengatakan: “Ketahuilah, bahwa anak kecil merupakan amanat bagi kedua orangtuanya. Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada apa saja yang disodorkan kepadanya Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan dia akan tumbuh dalam kebaikan dan berbahagialah kedua orang tuanya di dunia dari akherat, juga setiap pendidik dan gurunya. Tapi jika dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagai mana binatang temak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa. Dosanya pun ditanggung oleh penguru dan walinya. Maka hendaklah ia memelihara mendidik dan membina serta mengajarinya akhlak yang baik, menjaganya dari teman-teman jahat, tidak membiasakannya bersenang-senang dan tidak pula menjadikannya suka kemewahan, sehingga akan menghabiskan umurnya untuk mencari hal tersebut bila dewasa.”

Metode Pendidikan Bagi Siswa-Siswi Nakal

7 Jun

Pada dasarnya tidak ada anak yang nakal, yang membuat dia nakal disebabkan oleh banyak faktor seperti perlakuan orang tua terhadap anak, pengaruh lingkungan serta metode pendidikan yang diberikan kepada mereka yang tidak tepat. Anak-anak bukanlah orang dewasa yang berbadan kecil, tetapi anak–anak tetaplah ia anak-anak disertai dengan sikap kekanak-kanakannya. Begitu juga dengan remaja, kita juga belum bisa menuntup mereka untuk bersikap seperti orang dewasa seutuhnya. Remaja adalah manusia yang sedang mengalami masa transisi, yakni orang yang sedang menglami kegoncangan jiwa. Mereka memiliki keinginan yang sendiri dan mempunyai dunia yang sendiri pula, jadi tidak dapat kita mengatakan mereka nakal bila mereka melakukan apa yang disukainya. Tetapi mereka perlu diarahkan kepada hal-hal yang positif. Hal ini tentunya dilakukan oleh orang tua, guru di sekolah, serta lingkungan.
Seorang pendidik harus dapat mengerti kondisi seorang anak, bila sudah mengenal kondisi mereka maka kita akan mudah untuk mengajak mereka ke arah yang positif. Ini tentunya perlu pendekatan psikologis kepada mereka. Dalam mendidik remaja atau siswa maka seorang pendidik hendaknya dapat masuk kedalam dunia remaja tersebut, bila tidak pendidik akan mengalami kesulitan dalam mengajak anak didiknya.

Dalam mendidik hendaknya konsisten dalam melakukan aturan-aturan yang telah ditetapkan, jangan plin-plan dalam mendidik anak. Metode pendidikan bagi siswa yang nakal adalah dengan bersikap tegas terhadap siswa nakal. Dalam mengajari anak kita harus tegas dan disiplin. Jangan terlalu keras dan lunak. Kalau mereka dibiarkan begitu saja bertindak seenaknya maka kita sebagai guru akan disepelekan. Untuk itu hal-hal yang harus dilakukan guru adalah :
1. Jangan pilih kasih terhadap murid kalau salah harus diberi sanksi melihat kesalahan.
2. Tidak boleh main pukul karena ini akan mendidik anak untuk bertindak keras dan tidak baik untuk perkembangan anak.
3. Sanksi yang diberikan anak salah harus sesuai dan jangan memberatkan juga mendidik.
4. Bila nakal atau ramai di kelas harus cepat diberitahukan atau ditenangkan jangan dibiarkan.
5. Anak yang tidak mengerjakan pr jangan dibiarkan saja harus diberikan sanksi tapi jangan memberatkan.
6. Guru harus evaluasi diri dan harus jujur dengan siswa.
7. Jangan memberikan pelajaran yang membuat anak bisa terpengaruh dengan jelek. Harus disesuaikan dengan apa yang dihadapi dan sesuai dengan umurnya.
Semua yang ada di atas itu adalah suatu hal yang perlu diperhatikan guru. Sebenarnya banyak sekali harus diperhatikan. Tetapi semua itu perlu mengerti dan memahami bahwa guru itu harus mendidik siswanya. Jangan dibiarkan siswa itu sendirian. Harus ada perhatian walau itu tidak banyak. Setiap mengajar anak harus diperhatikan apa yang akan disampaikan. Jangan menyampaikan hal-hal yang jelek. Nanti bisa membawa pengaruh jelek terhadap perkembangan siswanya. Beri nasehat yang memberikan motivasi belajarnya. Karena motivasi itu penting untuk menumbuh kembangkan hidupnya dalam mencapai cita-cita. Dalam hal memberikan sanksi harus tegas dan tepat. Jangan sembarangan memberikan sanksi pada anak yang sebenarnya tidak perlu.
Pendidikan itu tidak musti diberikan sanksi bila salah. Kalau memang siswa keterlaluan kekerasan itu juga perlu tetapi jangan sampai menyakiti sampai masuk rumah sakit. Janganlah guru itu menjadi momok dan menakutkan siswa. Harus seperti malaikat selalu menolong mereka dalam memahami pelajaran yang diajarkan. Terutama pelajaran yang sulit. Tak ada yang enak dalam hidup ini kecuali menjadi apa yang diinginkan sejak kecil. Maka keinginan hidup anak jangan dimatikan harus dihidupkan dengan memberikan motivasi diri anak. Maka sebagai guru yang baik itu adalah selalu memberikan :
1. Contoh atau tauladan sebagai anak yang baik bagaimana.
2. Jangan selalu mencerca atau mengolok harus memberikan motivasi yang baik.
3. Pendidikan yang positif dalam hidup anak.
4. Pelajaran yang sesuai diajarkan guru jangan menyembunyikan.
Nasehat tentang segala hal dimasukkan dalam pelajaran kalau itu perlu.