Resume Teklab II (V)

29 Apr

HUBUNGAN SOSIAL DAN AKTUALISASI DIRI

A. Pengertian Hubungan Sosial

Sosial berarti berkenaan dengan masyarakat, umum, suka menolong dan memperhatikan orang lain. Hubungan sosial berarti hubungan yang terjadi ketika kita berintekrasi atau melakukan hubungan serta sosialisasi dengan alam/ manusia/ lingkungan disekitar kita mulai dari lingkup terkecil yaitu keluarga sendiri, teman, sekolah, tetangga dll.

Pengertian Hubungan sosial dalam buku “cara membina hubungan baik dengan orang lain” karangan Richard Nelson adalah adanya keterkaitan dengan orang lain, biasanya melihat tatap muka / komunikasi. Sedangkan dalam buku “ Hubungan Masyarakat Modern” karangan Drs. S.K. Bonar.  Hubungan sosial adalah menjalankan usaha-usaha untuk mengembangkan hubungan-hubungan yang akrab, pantas, dan menguntungkan untuk kedua belah pihak, seperti antara sesuatu perusahaan, industri, atau organisasi dengan masyarakat disekelilingnya.

Jadi Hubungan Sosial ialah relasi sosial yang terbentuk antara individu, kelompok, dan kelompok, atau antara individu dengan kelompok. [1]

Hubungan sosial berarti hubungan yang terjadi ketika kita berinteraksi atau melakukan hubungan serta bersosialisasi dengan alam, manusia, lingkungan disekitar kita mulai dari lingkup terkecil yaitu, keluarga sendiri, teman, sekolah, tetangga.[2]

B. Konsep Dasar Dalam Hubungan Sosial

Konsep dasar dalam hubungkan sosial yakni:

  • Menghindari rasa sakit akibat keterasingan (secara biologis manusia butuh hubungan dengan manusia lain)
  • Bantuan diusia tua, bila sakit dan sebagainya
  • Kerjasama untuk menyelesaikan tugas
  • Beradaptasi / mepelajari cara baru dalam melakukan sesuatu

C. Masalah-masalah Dalam Hubungan Sosial

Gejala-gejala sosial di dalam masyarakat yang tidak dikehendaki dan diinginkan oleh masyarakat dapat disebut masalah sosial. Hal ini merupakan gejala yang abnormal atau gejala- gejala patologis. Masalah-masalah sosial begitu mengganggu dan menghantui kehidupan manusia dalam kebudayaan dan peradabannya karena dapat dipastikan hal tersebut menjauhkan manusia dari kesejahteraannya. Dalam sejarah peradaban manusia sebelum adanya ahli-ahli ilmu sosial, pemecahan masalah-masalah sosial ini ditangani oleh para filosofis, ahli politik, ahli hukum, dan rohaniwan.

Pada dasarnya, masalah sosial mengangkut nilai-niali sosial dan moral. Masalah tersebut merupakan persoalan, karena menyangkut tata melakukan immoral, berlawanan hokum dan bersifat merusak.

Masalah sosial timbul dari kekurangan-kekurangan dalam diri manusia atau kelompok sosial yang bersumber pada factor-faktor ekonomis, biologis, bio-psikologis, dan kebudayaan.

Masalah-masalah dapat dikategorikan menjadi empat jenis factor yaitu:

  1. Faktor ekonomi, kemiskinan, pengangguran
  2. Faktor budaya
  3. Faktor biologis
  4. Faktor psikologis

D. Teknik Disensistisasi

Pendekatan teknik ini dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku melalui perpaduan beberapa teknik untuk mengubah tingkah laku melalui perpaduan beberapa teknik yang terdiri dari memikirkan sesuatu, menenangkan diri, dan membayangkan sesuatu. Dalam hal ini konselor berupaya untuk menanggualangi kesulitan ataupun kebimbingan yang dalam suasana tertentu.[3]

Konselor melakukan teknik ini dengan memanfaatkan ketenangan jasmaniah klien  untuk melawan ketegangan jasmaniah yang timbul bila klien berada pada suasana yang menakutkan atau menegangkan.Dalam proses ini ada beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan dan ada beberapa tahap yang di lalui yaitu:

a)      Teknik desentisisasi sebaiknya digunakan bagi klien yang merasa takut terhadap suatu hal tertentu saja

b)      Sebelum memulai, klien harus diberi penjelasan secara tuntas tentang proses pengubahan tingkah laku. itu tidak berhasil jika klien itu sendiri tidak yakin bahwa ketakutan itu merupakan hasil belajar dan cara menghilangkannya pun dapat melalui proses belajar.

c)      Terlebih dahulu klien harus berada dalam keadaan yang benar-benar tenang. Ketenangan ini dapat terjadi melalui latihan yang diatur oleh konselor sendiri atas kesukarelaan klien sendiri

d)      Selanjutnya konselor dank lien bersama-sama menyusun suatu daftar kejadian-kejadian yang berhubungan dengan ketakutan itu. Kejadian-kejadian ini kemudian diurutkan mulai dari yang kurang menakutkan sampai kepala yang paling mendalam (Menakutkan)

e)      Dalam tingkat berikutnya konselor terlebih dahulu membantu klien mencapai sesuatu keadaan yang benar-benar tenang secara jasmaniah. Keadaan ini dilengkepai dengan peningkatan sebanyak mungkin bayangan kenegangan yang secara mentah , kemudian konselor menguraikan butir kejadian yang paling rendah dalam urutan ketakutan itu

f)         Dengan demikian klien bersama konselor menangani kejadian-kejadian itu secara bertahap.konselor mendorong klien untuk menerapkan hal-hal yang dilatihkan itu didalam kehidupannya, dan melakukan hal-hal yang perlu untuk menolong sendiri bilamana ketegangan atau kebingungan terjadi.


[1] Keastoer Partawisastra, Dinamika psikologi sosial, Jakarta: Erlangga, 1993 Hal.10-11

[2].http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080201055323AAEVmZ

[3] http://husniabdillah.multiply.com/journal/item/6/Stres_dan_teknik_pencegahannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: